Rabu, 04 Maret 2015

Menjadi Minoritas di Tengah Mayoritas (Catatan untuk Rembang)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sebenarnya ibu-ibu di Rembang sana yang menjadi minoritas, sebab hanya mereka dan segelintir orang yang menyerukan hak-hak mereka atas tanah yang dirampas. Mereka melawan kegilaan yang sekarang menjadi kewajaran, modal. Ibu-ibu ini melawan rasaksa. Tapi bukankah perempuan memang selalu terlalu heroic? Tak gentar melawan kepedihan dan ketakutan?



Saya bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kasus Rembang. Buat yang belum tahu, itu lho kasus pembangunan pabrik semen massal yang selain akan merusak alam besar-besaran juga merusak masa depan para petani Rembang. Kasus serupa di Kendeng. Sebelumnya di Pati. Mereka hanya ingin mempertahankan hak atas tanah. Tanah sebenar-benar tumpah darah. Tapi apalah daya Ibu Pertiwi di tangan penguasa tanpa nurani?

Kamis, 19 Februari 2015

Hari ke 21: Sesal itu Pasti Ada


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Untuk Bosse,
di dalam Kotak Pos tua berkarat.

Bos, apalah dayaku yang tinggal berpuluh-puluh kilometer dari Bandung? Meski gak bisa ikut gathering dan akan melewatkan banyak orang yang siapa tahu jodohku, tapi aku gak akan berhenti nulis surat cinta lewat kamu, Bos.

Harapannya sih ada gathering di Jogja. Tapi kayaknya aku juga gak bakal datang deh. Aku terlalu culun dan mengerikan untuk bertemu banyak orang, Bos. Maka dari itu aku bisanya nulis surat di #30HariMenulisSuratCinta

*mandi di shower*
*bercucuran air mata*

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Senin, 16 Februari 2015

Hari ke 19 : Cinta dari Keluargamu

#30HariMenulisSuratCinta

Mas, aku mungkin terlihat tidak mencintaimu. Bukan berarti aku tidak mencintaimu. Ini hanya soal waktu dimana aku masih belum mau berkorban banyak untukmu. Lebih dari sekedar menyisipkan namamu untuk kutemui di sela-sela sibukku.

Mas, jika memang aku begini, cukupkah aku sebagai penggenap separuh agamamu? Bahkan aku sendiri selalu berpikir, barangkali hidupmu akan semakin ganjil dengan kehadiranku. Pacaran memang mudah. Tapi berbagi ranjang dan mendengarkan keluh kesah panjang itu susah. Apalagi jika harus seumur hidup

Kamis, 05 Februari 2015

Hari ke-7: Kenapa Harus Jatuh Padamu?

#30HariMenulisSuratCinta

Kepada perempuan yang rajin mengaji 
dan membaca.

Apa kabar hafalan ayatmu? Sudah sejauh mana? Sejauh jarak yang membentang di antara kita kah? Jarak yang membuatku menahan segala bentuk jelmaan rindu. Kadang rindu bisa berupa stalking akun medsosmu (yang bahkan jarang banget update, karena kamu tak seperti kebanyakan perempuan masa kini, update status sana-sini) selama berjam-jam atau sekedar ingin sms tapi semuanya berakhir di draft hape.

Kamu tahu, kamu membuat otakku kembali bekerja setelah sekian lama rehat dari segala penat. Pun memacu jantungku berdetak lebih cepat. Jatuh cinta padamu membuatku lebih sehat.

Rabu, 04 Februari 2015

Hari ke-6: Laki-laki yang Sedang dalam Pelukan Perempuan

#30HariMenulisSuratCinta

Untuk kamu yang dulu pernah menjadi bagian 
dari mimpiku menuju KUA,

Jadi, bagaimana rasanya 'membersamai kita' dengan perempuan lain, Mas?

Eh, gimana? Pertanyaanku terlalu to the point? Atau diksinya terlalu kekinian? Setidaknya pertanyaan yang selalu muncul di tengah perjuanganku merelakanmu, telah aku sampaikan di sini. Pertanyaan yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu (ingat puisinya Sapardi yang ini?).

Aku bosan terus kucing-kucingan perasaan denganmu. Seperti sejarah Komunisme di Indonesia dengan Pemerintahan Orde Baru atau FPI dengan pajak club-club malam. Sebenarnya pertanyaanku juga gak perlu kamu jawab, aku sudah bisa menjawab melalui terkaan usia hubunganmu dengannya.
Bahagia.

Aku bisa apalagi selain mengamininya? Sedangkan untuk kembali mencintaimu, aku tidak mampu. Toh, salah satu tujuan aku mengakhiri kita di antara aku dan kamu adalah satu kata keparat itu. Mudah nulisnya, susah praktekinnya. Iya, bahagia.

Bukankah gitu, Mas? Kita selalu merasa yakin lebih mampu dibahagiakan oleh orang lain ketika hubungan kita tak pernah menjadi lebih baik. Seperti Annelies yang terus berpikir demikian sebelum kematiannya menyisakan duka bagi Minke. Seperti Laila yang berusaha menghindari Prameswara hingga kematian merenggut semua dari Laila.

Tapi berbahagia dengan perempuan lain memang hakmu. 
Kewajibanku adalah mendoakan kesehatan kedua orangtuamu.

Eh, gimana? Aku juga perlu jawab pertanyaanku sendiri yang di atas itu? Hm... Ini bukan tentang mencari penggantimu, Mas. Kamu juga tahu (tanpa aku beri tahu) bahwa aku pun bersama laki-laki lain, sekarang. Ini tentang bagaimana tidak kembali mengulang kesalahan. Seperti penolakan hukuman mati terhadap terpidana kasus narkoba dan memilih refleksi terhadap hukuman di Pulau Buru.

Mas, bagiku kesempatan kedua ada karena Tuhan yakin kita mampu merayakan ketakutan akan kehilangan. Meski kesempatan kedua bukan voucher karaoke yang bisa dengan mudah kita gunakan sesuka hati.

Aku merayakan kesempatan kedua dengan berusaha terus mendukung usaha-usaha idealismu. Status 'bukan pacar tapi siapa tahu kita bisa balikan' ini bukan alasan untuk berhenti mendukungmu. Dukungan yang tidak ingin kuperlombakan dengan dukungan dari perempuanmu. Sebab dukunganku memiliki doa tersendiri untukmu. Dan dukungan pacarmu mampu memberikan lebih dari doa, yakni cinta. Yang aku tidak bisa. 

Terima kasih sempat menjadi rumah bagi segala peluh, peluk, penat dan hangatku, Mas. Selamat membaca bersama perempuan yang pelukannya menjadi bagian bahagia hidup barumu!

Dari yang dulu lecet mukanya waktu kamu boncengin 
karena rambut gondrongmu gak kamu masukin ke helm,

NB :
Mungkin ini surat terakhir dariku. 
Lanjutannya lewat whatsapp aja ya.