Selasa, 26 Januari 2016

Minoritas di Tengah Mayoritas: Keberagaman yang Tidak Beragam


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sebenernya saya terserang sindrom malas menulis panjang, termasuk skripsi (alasan doang sih sebenernya). Padahal katanya, menulis bagus buat belajar fokus. Dimana saya sedang terapi untuk fokus. Saya memang gemar menjauhi hal-hal yang baik #huft.

Mmm...
Cerita apa ya enaknya?

Ada cerita menarik ketika saya magang di pusat studi religi dan budaya di kampus saya. Bukan tentang proses magangnya yang menarik: dimana saya kabur dari tanggung jawab dan sampai ditegur dosen. Uhuk. Tapi lebih ke apa yang saya dapatkan ketika ditugasi bikin artikel tentang kekerasan atas nama agama di Jawa Barat.

Iya, selo banget emang di pusat studi bahas gituan.
Sebab gak ada yang mau repot-repot peduli sama mereka yang didiskriminasi atas nama agama.

Tahukah kalian bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki index kasus kekerasan atas nama agama yang tinggi?! (sumber)

Saya pun syok. Bertanya pada diri sendiri, benarkah Bhineka Tinggal Ika is a bullshit? Kasus yang terjadi antara lain penyegelan gereja, pengusiran pengikut Ahmadiyah, penggusuran pengikut Syiah, hingga diskriminasi terhadap penghayat Sunda Wiwitan. Dimana kasus ini dilakukan oleh kelompok Mayoritas Muslim, salah satunya FPI.

Mereka tidak boleh beribadah bahkan mempercayai kepercayaan masing-masing.


gambar dari google

Minggu, 06 Desember 2015

Hasrat Ingin Main FTV Meninggi (Seri Curhat Akhir Tahun)




Setelah seharian tidur dan menolak nasi ampera, malam ini bingung buang energi kemana. Biasanya jam-jam satu dini hari ada di forum. Di sela-sela tidur, mondar-mandir dari twitter ke instagram mengorek-orek hidup orang lain (stalking -red). Upaya produktif yang berujung sia-sia.

Sebelum hape android saya pergi dan tak kembali (terbaru saya pinjam hape kawan), saya tergabung dalam berbagai grup di Line, BBM, dan whatsapp. Grup-grup itu mulai dari yang saya bikin sampai dibikinkan kawan. Dari yang ada endapan ratusan chat sampai kosong mlompong. Dari yang anggotanya orang penting sampai diri saya sendiri.

Jumat, 30 Oktober 2015

TV KAGEM dan Mengintip Desa Sardonoharjo


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


hai pemuda!

mumpung masih dalam semangat 'ayo bangkit pemuda, jangan cuma protes dan menikmati kenakalan remaja saja!', saya mau ikut-ikutan menjelma menjadi pemuda harapan bangsa juga. bukan, bukan dalam rangka protes. apalah saya ini, cuma kelas menengah ngehe yang terpinggirkan. saya cuma ingin menengok ke belakang ketika saya masih berproses di Rumah Belajar Kreatif KAGEM sebagai relawannya sejak 2012 silam.



apa itu KAGEM bisa dicek di Company Profilenya di sini. 
produksi tahun 2013. editor utama Garil.



ini Company Profile KAGEM tahun 2012.
sutradara dan editor Tibyan.


sudah nonton CP-nya KAGEM? nah, lebih detailnya pada tahun 2013, KAGEM memutuskan untuk menambah satu divisi baru yakni divisi Media. kegiatannya adalah mencoba merintis semangat bermedia komunitas melalui televisi komunitas. televisi komunitas ini bernama TV KAGEM. konsep yang ditawarkan oleh medkom ini adalah membuat konten video dari, oleh dan untuk warga di lokasi medkom berada. tayangan yang diproduksi akan menjadi alternatif dari tayangan media arus utama yang tidak berasal dari akar rumput.



ini tayangan pertama dari TV KAGEM.
kontennya adalah perkenalan singkat tentang Desa Sardonoharjo.

basis dari televisi komunitas ini adalah upaya memperkenalkan warga di sekitar lokasi medkom dalam hal ini tingkat desa, terhadap manfaat dari bermedia komunitas, salah satunya mempromosikan potensi desa tersebut. TV KAGEM berlokasi di Desa Sardonoharjo, Sleman, Jogja. bersama warga Desa Sardonoharjo, setiap konten yang sudah selesai diproduksi akan ditayangkan melalui mekanisme layar tancep sambil menikmati kacang rebus.

liptan ketika kedatangan Bupati Sleman Sri Purnomo tahun 2013.
kameraman Tibyan.

Berbicara mengenai Desa Sardonoharjo, desa ini berada di tengah-tengah lajur Jalan Kaliurang, yaitu jalan yang membelah Yogyakarta bagian Barat dan Timur. Desa ini terletak antara Jalan Kaliurang KM 8 sampai Jalan Kaliurang KM 13. Jika anda menyusuri jalan pembelah Yogyakarta ini dari bawah, anda akan menemukan Kantor Kepala Desa ini di sebelah kiri jalan Kaliurang KM 10. Sekitar 30 menit dari pusat kabupaten Sleman. Desa ini berbatasan dengan Desa Umbul Martani di sebelah utara, Desa Sinduharjo sebelah selatan dan timur, serta Desa Donoharjo di sebelah barat. 


Desa dengan luas hampir 900 hektar ini didominasi oleh tanah basah. Hampir ¾ dari seluruh luas desa adalah sawah dan ladang. Jadi jangan aneh jika anda berkunjung ke desa ini, disisi-sisi jalan penglihatan anda akan didominasi oleh warna hijau dari daun dan rumput. Jalannya tidak selebar jalan raya, namun cukup panjang untuk disusuri. Berkeliling desa ini tidak akan cukup hanya dengan waktu 100 menit. Jalan desa yang bercabang-cabang membutuhkan lebih dari sekali berkeliling untuk mengingatnya.



tayangan tentang JAMPERSAL dengan bidan desa tahun 2013.
sutradara saya.
kameraman Anggara Ari.



tayangan tentang Dasawisma Dukuh Jetis Baran tahun 2013.
sutradara Khalimatu Nisa.

Senin, 12 Oktober 2015

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak



Untuk Mbak Fitri


Tepat satu tahun (bulan September-Oktober 2014) lalu saya berkenalan dengan seorang gadis yang kemudian saya putuskan untuk saya kagumi. Ia adalah Dewi (22 tahun). Dewi tinggal di RT 05/RW 55, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Jogja. Dewi seusia dengan saya. Setiap sore, Dewi senang ngobrol dengan ibu-ibu ini sembari ikut menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Dewi juga tidak pernah absen mengikuti pengajian yasinan rutin RW 55. Jika kalian main ke RW 55 ini, tidak ada ibu-ibu yang tidak kenal dengan Dewi. Lepas lulus SMA, Dewi sehari-hari bekerja membantu usaha mebel Masnya. Dewi memilih untuk menemani ibunya di rumah. Di sela-sela kegiatannya, ia membantu mengajari anak-anak di Krapyak untuk mengaji di TPQ musola RT 04.

Lala bergaya dan Dewi sedang ngobrol ketika Yasinan

Minggu, 20 September 2015

Sambalnya Satu Bu, Sambal Tomat Ya!




Suatu hari saya bertemu kawan lama. Dia dan saya mengorbol soal banyak hal. Kemudian kami sampai di satu kalimat, Sebenarnya untuk apa kita memperjuangkan orang-orang tertindas ini?”

Kalimat yang sama juga ditanyakan oleh kawan baru-baru ini, “Kenapa pakai kata ‘berjuang’ fat? Emangnya apa yang diperjuangin? Kenapa harus berjuang?”

“Kenapa harus mengawal Pemerintah dan memihak petani fat soal pembangunan bandara di Kulonprogo? Bukannya bagus Jogja jadi punya bandara bagus?”

Gimana ya caranya mengedukasi warga ini supaya ada transfer pengetahuan ke generasi yang selanjutnya?”