Jumat, 08 Mei 2015

Refleksi Hari Buruh: Ibu-ibu Rembang ke UGM


 Hari buruh baru saja kita rayakan. Marsinah kembali kita kenang. Tapi angka penduduk Indonesia yang bekerja sebagai buruh terus saja meningkat. 
 
Kata kesejahteraan seolah jauh dari masa depan mereka.

Hampir tidak ada lagi yang bekerja sebagai petani di negara ini. 
Tanah milik warga terus saja terampas atau terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan pemerintah terus menaikkan tingkat impor beras dan lainnya yang justru tidak memperbaiki permasalahan awal mengenai tanah.

Postingan kali ini saya hanya menyuguhkan foto-foto yang saya ambil Maret silam tentang ibu-ibu Rembang yang memperjuangkan hak atas tanahnya yang terampas oleh modal.

 Foto ibu-ibu yang kelak juga akan menjadi buruh saja ketika hak atas hidup bebas di tanahnya sendiri benar-benar terampas.

Siapa lagi yang akan menjadi buruh?

Ketika menunggu di Gedung Rektorat UGM

Suasana lorong Rektorat UGM

Ibu-ibu yang sedang beristirahat diwawancarai oleh pers kampus

Spanduk yang menyuarakan kegelisahan mahasiswa dan ibu-ibu ini lantang bersuara

Sesi orasi mempertanyakan sikap UGM dan mahasiswa mengenai konflik Rembang dan lainnya

Ibu-ibu berdiri di garda depan bersama mahasiswa

"kain ini lambang perjuangan para petani, mbak."

Siapa yang ingin ikut mendukung ibu-ibu ini?

Bendera mahasiswa di sela-sela longmarch

Salam dari Gunretno (Sedulur Sikep) sebelum menyambangi Rektorat UGM

Semen dan Nurani?

Saya mengantarkan ibu-ibu Rembang ini kembali ke bus untuk pulang



Buku Rembang Melawan ini dapat dibeli di saya (083840783160). 
Buku ini berisi analisa para pakar soal kasus konflik agraria Rembang yang hasil penjualannya untuk donasi perjuangan ibu-ibu Rembang.
Harga Rp 40.000

Kamis, 19 Maret 2015

Divortiare dan HER: Cerita tentang Perceraian



Divortiare adalah novel kedua karya Ika Natassa yang terbit tahun 2008. Saya jatuh cinta pada metropop Gramedia yang ini melalui kisah perceraian Alexandra.

HER adalah film karya Spike Jonze yang premiernya tahun 2014 dan mendapatkan banyak nominasi oscar. Saya jatuh cinta pada bagaimana Theodore mengakui sebab perceraiannya.

Saya menyoroti isu perceraian yang dipaparkan kedua media penghibur ini meski barangkali maksud author keduanya bukan tentang perceraian. Sebenarnya saya memang menikmati cerita seputar pernikahan sejak remaja, HAHAHA.


Rabu, 04 Maret 2015

Menjadi Minoritas di Tengah Mayoritas: #DemiRembang


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sebenarnya ibu-ibu di Rembang sana yang menjadi minoritas, sebab hanya mereka dan segelintir orang yang menyerukan hak-hak mereka atas tanah yang dirampas. Mereka melawan kegilaan yang sekarang menjadi kewajaran, modal. Ibu-ibu ini melawan rasaksa. Tapi bukankah perempuan memang selalu terlalu heroic? Tak gentar melawan kepedihan dan ketakutan?



Saya bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kasus Rembang. Buat yang belum tahu, itu lho kasus pembangunan pabrik semen massal yang selain akan merusak alam besar-besaran juga merusak masa depan para petani Rembang. Kasus serupa di Kendeng. Sebelumnya di Pati. Mereka hanya ingin mempertahankan hak atas tanah. Tanah sebenar-benar tumpah darah. Tapi apalah daya Ibu Pertiwi di tangan penguasa tanpa nurani?

Senin, 16 Februari 2015

Hari ke 19 : Cinta dari Keluargamu

#30HariMenulisSuratCinta

Mas, aku mungkin terlihat tidak mencintaimu. Bukan berarti aku tidak mencintaimu. Ini hanya soal waktu dimana aku masih belum mau berkorban banyak untukmu. Lebih dari sekedar menyisipkan namamu untuk kutemui di sela-sela sibukku.

Mas, jika memang aku begini, cukupkah aku sebagai penggenap separuh agamamu? Bahkan aku sendiri selalu berpikir, barangkali hidupmu akan semakin ganjil dengan kehadiranku. Pacaran memang mudah. Tapi berbagi ranjang dan mendengarkan keluh kesah panjang itu susah. Apalagi jika harus seumur hidup

Kamis, 05 Februari 2015

Hari ke-7: Kenapa Harus Jatuh Padamu?

#30HariMenulisSuratCinta

Kepada perempuan yang rajin mengaji 
dan membaca.

Apa kabar hafalan ayatmu? Sudah sejauh mana? Sejauh jarak yang membentang di antara kita kah? Jarak yang membuatku menahan segala bentuk jelmaan rindu. Kadang rindu bisa berupa stalking akun medsosmu (yang bahkan jarang banget update, karena kamu tak seperti kebanyakan perempuan masa kini, update status sana-sini) selama berjam-jam atau sekedar ingin sms tapi semuanya berakhir di draft hape.

Kamu tahu, kamu membuat otakku kembali bekerja setelah sekian lama rehat dari segala penat. Pun memacu jantungku berdetak lebih cepat. Jatuh cinta padamu membuatku lebih sehat.