Minggu, 16 Agustus 2015

The Perks of Being A Wallflower dan JUNO: Siapa Remaja? (Review)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


(meski postingan ini tak mengandung unsur kejeniusan, 
aku memaksakan diri untuk tidak tahu malu)



intro.

pertama JUNO.
film pemenang naskah terbaik Oscar 2007 ini mengisi kekosongan masa remajaku.

kedua The Perks of Being A Wallflower.
film pemenang adaptasi novel terbaik ACCA 2012 ini mengisi kekosongan jiwaku paska remaja.





dua film ini akan aku bahas dengan satu tema,
seperti ketika aku bahas Her & Divortiare.


JUNO & The Perks Of Being A Wallflower
kedua film ini memiliki kesamaan yakni:

pertama:
tokohnya adalah remaja

kedua:
isu yang diangkat lekat dengan remaja

ketiga:
isinya adalah mimpi buruk para orang tua tentang anaknya yang remaja

Kamis, 06 Agustus 2015

perjalanan yang dipilih


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


setelah kemarin posting sedikit catatan untuk diri sendiri jelang usia 22 tahun, saya mau bikin catatan lagi di usia awal 22 tahun. sebenarnya jawaban dari kehilangan yang saya alami itu satu:

saya tidak fokus.

saya tidak pernah berusaha untuk fokus pada satu hal saja. saya selalu ingin mendapatkan banyak hal. saya tidak pernah ingin untuk menjadi tertinggal. sehingga saya berusaha meraih semuanya. saya ingin meraih semuanya, tapi hasilnya adalah saya tidak bisa menyelesaikan satu hal pun.

Minggu, 26 Juli 2015

Ipah on Tumblr


Ipah on Tumblr
Click Here
summary:
mini blog di tumblr bertema khusus yakni 
anak, remaja, parenting, 
dan seputar rumah tangga.

Media Komunitas dan Representasi Penyuaraan Kebutuhan Masyarakat


Ramai pemberitaan di media massa arus utama tidak surut begitu saja usai ajang pemilihan umum presiden republik indonesia kemarin. Hingga kini setiap isu yang didapati kemungkinan tinggi terhadap korupsi atau kebijakan yang tidak sesuai harapan rakyat dengan mudah menjadi kontroversi. Tidak selesai menjadi berita di media massa, penggiringan isu melalui platform miniblog twitter ternyata bersuara lebih gencar! Sayangnya, tidak semua media arus utama mampu atau mau mengangkat isu-isu kaum minoritas seperti isu-isu konflik agraria atau potensi desa-desa di Indonesia.


Lalu bagaimana khalayak akan paham tentang isu-isu yang tidak seksi (padahal penting dan genting) ini? Imbasnya adalah isu-isu minoritas tersebut akan terus menjadi tabu. Seolah kebebasan pers bukan hak wong-wong cilik di desa-desa bahkan meski mereka sangat butuh publikasi, seperti sengketa Rembang, Urut Sewu, Apartemen Uttara hingga genosida terstruktur di Papua. Kemana aplikasi UU kebebasan berpendapat? 


Jumat, 24 Juli 2015

22 Tahun dan Hal-hal yang Hilang



Beberapa waktu belakangan ini saya sering depresi ketika memikirkan uang. Saya habis kehilangan uang dengan nominal hasil menguras keringat saya selama ini. Saya butuh membeli beberapa barang, salah satunya sepatu. Saya tidak bisa membeli sepatu tersebut. Saya juga harus membayar hutang kepada beberapa orang dan harus menundanya. Saya juga menunda pembayaran iuran di beberapa tempat dan tidak membalas sms beberapa orang karena tidak sanggup beli pulsa pada saat itu juga.